‘Dunia Layar/Layar Dunia’

oleh:
Audifax
Direktur Operasional Rumah Buku – YAP Institute

she stepped off the bus out into the city streets/just a small town girl with her whole life/Packed in a suitcase by her feet/but somehow the lights didn’t/shine as bright as they did/on her mamas tv screen/. nukilan lagu berjudul Fallen Angel yang pernah dipopulerkan grup band Poison tersebut memberi gambaran bahwa layar (screen) bukan sekedar medium representasi atau kumpulan citra, akan tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan kesadaran eksistensial manusia, yaitu bagaimana manusia ada-di-dalam-dunia

‘layar’ adalah tema besar dari buku ‘Multiplisitas dan Diferensi – Redefinisi Desain, Teknologi dan Humanitas’, karya Yasraf Amir Piliang (YAP) yang terbit di bulan November 2008. YAP melihat bahwa manusia tak lepas dari layar-layar yang melingkunginya. kita bisa melihat di sekeliling, ada layar televisi, seluler, komputer, film, ATM, bahkan media seperti koran, majalah pun bisa dikategorikan sebagai layar ketika membingkai sesuatu dan menghadirkan sesuatu itu sebagai fokus untuk diperhatikan. kita tahu, bahwa sebuah pemberitaan atau penulisan tak lepas dari framing yang memberi fokus-batasan pada sesuatu melebihi yang lain

sebelum ini YAP telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain Dunia yang Dilipat: Tamasya melampaui Batas-batas Kebudayaan (1998, edisi revisi 2004), Sebuah Dunia yang Menakutkan (2001), Hipermoralitas: Mengadili Bayang-bayang (2003), Hantu-hantu Politik dan Matinya Sosial (2003), Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (2003), Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika (2004), Dunia yang Berlari: Mencari ”Tuhan-tuhan” Digital (2004) dan Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas (2005), ‘Multiplisitas dan Diferensi – Redefinisi Desain, Teknologi dan Humanitas’ (2008)

buku ‘Multiplisitas dan Diferensi – Redefinisi Desain, Teknologi dan Humanitas’ yang merupakan disertasi YAP ini berbeda dari buku-buku sebelumnya karena disusun secara koheren dengan metode yang ketat. secara pribadi, saya menilai bahwa buku ini merupakan masterpiece dibanding buku-buku YAP sebelumnya. dalam buku ini, YAP tak kehilangan kekhasannya sebagai pemikir postrukturalis yang piawai mengeksplorasi ide dan konsep, namun dengan metode yang ketat semua itu menjadi lebih tajam dan koheren dibanding buku-buku sebelumnya

multiplisitas ruang dan waktu
YAP mencoba berangkat dari perbedaan dan bagaimana meletakkan perbedaan itu dalam sebuah multiplisitas. memahami perbedaan, tak cukup semata mengedepankan perbedaan, melainkan bagaimana pemahaman akan keberbedaan itupun disadari keberbedaannya. fenomenologi merupakan rute yang dipilih YAP. dengan mengombinasikan konsep esensi dari fenomenologi-transendental (Husserl) dan fenomenologi-hermeneutika (Heidegger, Ricoeur, Merleau-Ponty) YAP mencoba menukik pada pembahasan mengenai ontologi dari perbedaan

sementara struktur ontologis dari perbedaan yang membangun dunia layar, coba dicabar lewat filsafat diferensi yang dikembangkan oleh Bergson, Deleuze, Guattari dan Derrida. penelitian YAP ini benar-benar memfokuskan pada aspek ontologis, sehingga memang metode yang digunakan tidak terlalu memerlukan observasi empirik atau ontic

melalui metode fenomenologi-hermeneutika, layar dipahami dalam kaitannya dengan multiplisitas ruang, memahami perbedaan-perbedaan dalam ruang, aransemen, serta pembingkaian dalam struktur tatapan, citra, nilai sosial, pesan dan informasi. selain multiplisitas ruang, juga dipaparkan multiplisitas waktu, yang juga mencakup perbedaan waktu, durasi, narasi, memori, kecepatan dan horison masa depan. dengan demikian, ’ada’ dalam ruang dan waktu, mesti kita pahami dalam multiplisitasnya

YAP juga mempersoalkan apakah ‘kebaruan’ yang selama ini sering mengemuka dalam perkembangan kebudayaan material di sekitar kita benar-benar merupakan ‘kebaruan’? terlebih dalam disiplin desain (yang menopang budaya material), fungsinya sebagai pencipta ‘kebaruan’ seakan melupakan dan menabukan repetisi di dalamnya. manusia, bisa jadi adalah mahluk yang pervers, di satu sisi ia mengagungkan kebaruan yang seolah membedakan dirinya dari yang lain, namun di sisi lain ia juga melakukan repetisi atau imitasi pada apa yang sebelumnya telah ada. dalam konteks layar, YAP membahas lebih jauh bahwa kesadaran yang banyak diyakini dibangun di atas fondasi pengalaman langsung hidup bersama manusia-manusia lain, lingkungan alam, dan benda-benda ciptaan manusia, kini berubah menjadi pengalaman yang dimediasi oleh medium layar

psikologi desain
di sinilah kita bisa melihat bahwa desain memiliki keterkaitan erat dengan humanitas. lalu, ketika kita bicara tentang desain dan humanitas, maka di sini kita juga bicara mengenai Psikologi Desain. sebuah desain, ternyata memiliki ‘jiwa’ dan mampu memengaruhi ‘jiwa’ (baca: psikis). YAP mencoba menjelaskan ini antara lain melalui skema tatapan yang dikembangkan Lacan. dalam skema itu dijelaskan bahwa tatapan melapisi objek dengan hasrat sehingga objek memantulkan kembali apa yang menjadi keinginan si penatap

kita bisa melihat bagaimana masyarakat begitu gandrung dengan tontonan, yang jika dicermati maka di dalamnya ada aktivitas menatap, mengawasi, mengintip, memata-matai, yang semuanya itu melibatkan multiplisitas model melihat (ways of seeing). inilah mengapa gosip, kontroversi, cerita pribadi orang lain dan berbagai sajian tontonan sejenis begitu diminati masyarakat. namun, jika mau dicermati lebih jauh, tontonan ini juga memiliki kontribusi membangun eksistensi diri si penonton. seolah dengan menonton dirinya diakui eksistensinya

berkaitan dengan kondisi ini, YAP menjelaskan bahwa masyarakat dewasa ini sebagai masyarakat yang didominasi oleh ontologi citra, dimana pandangan, tatapan dan kesadarannya dipusatkan pada citra dan layar. dengan mengutip Levin, masyarakat seperti ini dinamai Imperium Citra. layar adalah istana dari Imperium Citra, yaitu arsitektur yang menjadi wadah dimana citra dikembangbiakkan, diproduksi, disebarluaskan, dikonsumsi dan dimaknai

disinilah skema tatapan psikoanalisa lacanian digunakan. melalui skema yang menjelaskan relasi tatapan yang melibatkan triadik citra-layar-subjek, YAP menunjuk berlangsungnya pembingkaian psikis, yang merupa dalam proses identifikasi pada tingkat ketaksadaran, yang kemudian menghasilkan pembingkaian dari apa yang muncul dari ketaksadaran (hal. 265). melalui layar, subjek mengintegrasikan bentuk ego yang dipinjamnya dari liyan di layar. dengan demikian, layar menjadi agensi bagi ego

posisi buku ini
karya YAP yang satu ini bisa menjadi sebuah buku penting dalam ranah kelimuan sosial. meski secara umum pembahasannya berangkat dari desain dan cultural studies, namun buku ini juga memberi kontribusi yang tidak sedikit bagi filsafat, komunikasi, psikologi, sosiologi bahkan pemahaman akan teknologi. dengan demikian, buku ini relatif merupakan buku yang bakal berumur panjang atau bisa menjadi sebuah buku klasik

namun, dengan kompleksitas paparan yang ada, buku ini juga memilih pembacanya. tak semua orang bisa memahami buku ini dengan mudah. bahkan, saya bisa mengatakan bahwa dibutuhkan penguasaan literatur tertentu, serta minat yang memang besar agar mampu memahami apa yang coba dipaparkan YAP dalam buku ini. tanpa itu, buku ini tak bisa dipahami secara utuh dan hanya akan menjadi pelarian untuk kutipan-kutipan parsial yang terlepas dari esensi yang coba dijelaskan YAP

cara membaca buku berjudul ‘Multiplisitas dan Diferensi’ ini pun, akan menimbulkan multiplisitas dan diferensi pembacaan. bahkan, buku ini berpotensi menimbulkan ketaknyamanan atau kontroversi bagi mereka yang terkungkung dan menutup diri dari peran disiplin lain di luar keilmuan yang digelutinya. ini karena YAP, meski berlatar pendidikan desain, namun masuk dan mendekonstruksi banyak hal yang selama ini diyakini ‘begitu saja’ di sejumlah bidang keilmuan

kendati demikian, gebrakan semacam ini adalah hal yang perlu dilakukan agar ilmu pengetahuan tak terkotak-kotak dan terbelenggu dalam pengulangan yang itu-itu saja. seperti dalam dialektika tesis-antitesis, yang kemudian memunculkan tesis baru sebagai implikasi sintesis, maka buku semacam ini adalah sebuah langkah maju dalam perkembangan pemikiran di ranah ilmu pengetahuan

kesimpulannya, dengan melihat semua yang ada pada buku ini, maka akan sangat menarik jika membawa pemikiran-pemikiran di dalamnya ke berbagai forum diskusi. makin menarik jika menghadirkan penulisnya sekaligus. dukungan atau sanggahan, tentu akan semakin memperkaya dan membuat berkembang pemikiran yang telah digagas awal lewat buku ini. ide mengangkat aspek layar sebagai penjelas banyak hal dalam fenomena kehidupan, adalah sebuah ide menarik yang mesti didiskusikan lebih jauh mengingat layar memang memiliki implikasi cukup signifikan dalam perkembangan kehidupan dewasa ini. sebagai penutup sekaligus perenungan lebih jauh akan pengaruh layar dalam kehidupan manusia, saya hadirkan bagian lain dari lirik lagu Fallen Angel:

Just like a lost soul
caught up in the Hollywood scene
all the parties and the limousines
just a step away from the edge of a fall
caught between heaven and hell
Where’s the girl I knew a year ago?

Iklan

‘Manusia Membingkai Mimpi’

Oleh
Audifax

Direktur Operasional Rumah Buku – YAP Institute

Dalam kepekatan mimpiku
WajahMu tersembunyi

Dari sudut manakah gerangan

Aku dapat segera mulai
Melukiskan engkau
yang kasat mata namun ada
bahkan mengalir dalam darah?
Hidup t’lah kujanjikan buatMu

Ebiet G. Ade
Bingkai Mimpi

manusia adalah mahluk pencari yang seringkali tak tahu apa yang dicarinya. konon, para mistikus kuno mengingatkan bahwa sebenarnya manusia mencari kebahagiaan yang berkaitan penyatuan dengan sesuatu yang sifatnya illahiah. namun, manusia terkecoh untuk sekedar mengejar ilusi. mereka sulit membedakan antara kebahagiaan dan apa yang sekedar kesenangan

seolah mengafirmasi pandangan para mistikus kuno dan pepatah ’Surga ada di bawah telapak kaki ibu’, Jacques Lacan, Neo-freudianis yang sering disebut sebagai postrukturalis pertama, menjelaskan teori psikoanalisanya. manusia, merindukan kepulangan pada sesuatu yang pernah memberinya perasaan utuh-penuh, yaitu rahim ibu. ini adalah sebuah kerinduan pada ‘Yang-Tak-Mungkin’. kerinduan yang membuat manusia lantas terkecoh mengejar pantulan bayang-bayang

sekilas, itulah gambaran yang bisa saya tangkap dari buku ’Dunia yang Berlari – Mencari ”Tuhan-tuhan” Digital’ (2004) karya Yasraf Amir Piliang (YAP). kerinduan manusia untuk menyatu dengan sesuatu yang Illahiah dan memberi kebahagiaan, membuat manusia mengembangkan berbagai bentuk ilusi dalam budaya, mulai dari teknologi cyber hingga pelatihan spiritual kalengan yang konon mampu menjadikan manusia menyatu dengan kebahagiaan Illahiah layaknya para sufi

YAP menengarai bahwa secara historis manusia mengalami tiga fase ’kehadiran’ Tuhan di dunia, yaitu:

1. Teosofi (Theosophy): ketika dunia dipenuhi oleh representasi kehadiran Tuhan (presence) di atasnya. inilah fase ketika ada sebuah ”bingkai ketuhanan” yang membatasi setiap gerak-gerik hasrat; manusia ketika setiap penampakan dan citra merupakan tanda-tanda (sign) dan manifestasi kehadiran Tuhan

2. Teknosofi (Technosophy): ketika kehadiran Tuhan ditandai oleh kehadiran teknologi, yang mengambil-alih berbagai peran Tuhan. inilah fase ketika batas-batas yang telah digariskan Tuhan mulai diterobos oleh manusia dengan bantuan teknologi; ketika segala keterbatasan manusia di hadapan Tuhan dipecahkan oleh kemampuan sains dan teknologi

3. Libidosofi (Libidosophy): ketika dunia dikuasai sepenuhnya oleh ide, gagasan, citra, objek, yang merupakan refleksi dari hasrat-hasrat; ketika hasrat mengalir tanpa batas sehingga sampai pada satu titik manusia merasa tidak memerlukan lagi kehadiran Tuhan. inilah fase ketika teknologi dikuasai sepenuhnya oleh hasrat manusia, ketika teknologi menjadi tempat pelepasan hasrat manusia

’Dunia yang Berlari’ sebuah term yang digunakan YAP, tampaknya dari sudut pandang berbeda, sengaja dipilih agar simetri dengan apa yang dikemukakan Anthony Giddens lewat term ’Runaway World’. meski ada slight different perspectives antara posmodernisme versi YAP dan Giddens, namun di sini ada benang merah yang bisa ditarik. intinya, ada sebuah kecepatan pertumbuhan dunia yang tak selaras dengan ’pertumbuhan’ manusia yang menghuninya

dalam psikologi, keseimbangan pertumbuhan psikis, seringkali bisa dijelaskan dengan melihat keselarasan pertumbuhan antara usia kronologis dan usia mental. barangkali ketakseimbangan kecepatan pertumbuhan dunia dan pertumbuhan manusia yang menghuni dunia, bisa diibaratkan ketakselarasan antara usia kronologis dan usia mental. akibatnya, ada ketakmatangan dalam berperilaku yang muncul di berbagai tempat

manusia seperti tersesat dalam ruang hampa yang menyajikan berjuta fatamorgana. mimpi demi mimpi dibingkai, namun seketika itu pula manusia menyadari bahwa apa yang dibingkainya bukanlah lukisan yang diinginkan. inilah sebuah dunia yang dipenuhi oleh apa yang diistilahkan Lacan sebagai jouissance, atau apa yang diistilahkan Derrida sebagai gram. inilah sebuah pergerakan cepat dan tanpa henti antara satu kenikmatan kosong menuju kenikmatan kosong lainnya.

YAP mencoba menjelajah berbagai fenomena yang terkait dengan desire and otherness. hanya saja, meski membahas dengan menggunakan cukup banyak varian pemikiran, YAP tampaknya tak lepas sepenuhnya dari kunci-kunci semacam: komoditi, kapitalisme, banalitas, dan berbagai konsep kunci yang jika ditelusuri akan terkait dengan pemikiran atau akar pemikiran dari Jean Baudrillard. ini adalah kekhasan yang membuat orang seringkali langsung teringat YAP begitu membahas posmodernisme

buku ini sebenarnya lebih merupakan potongan-potongan esei yang dirangkai berdasarkan taksonomi dan domain tematik. membahas berbagai varian, ada benang merah, namun tetap terlepas satu sama lain. hanya prolog dan epilog yang digunakan untuk menyintesa, yaitu persoalan tuhan-tuhan kosong yang mengecoh manusia. teori-teori yang digunakan untuk membahas, juga tak terlalu dielaborasi sampai jauh, cukup hanya digunakan sebagai penjelas fenomena

dengan gaya penyusunan semacam itu, memang buku ini menjadi lebih mudah dipahami ketimbang buku semacam Hipersemiotika yang membahas berbagai teori, konsep dan istilah cukup mendalam atau Multiplisitas dan Diferensi, yang relatif lebih komprehensif dan tertata secara metodik. saya lebih melihat ’Dunia yang Berlari’ sebagai sebuah pengenalan awal tentang kasus-kasus posmodernisme, sekaligus sedikit mencicipi pemikir-pemikir semacam Paul Virilio, Gilles Deleuze, Felix Guattari atau bahkan Baudrillard

bahkan pada titik tertentu, saya bisa mengatakan bahwa penulis lebih memiliki misi untuk mengajak pembaca merenung ketimbang mencabar kompleksitas pemikiran posmodernisme. sebuah renungan yang barangkali masih menyisakan kerinduan untuk kembali pada Illah yang absolut. setidaknya itu tertangkap oleh saya ketika di bagian epilog, YAP secara halus menawarkan pemikiran Mohamed Arkoun, yang tampak seperti jalan tengah bagi mereka yang kehilangan pegangan ketika segala keterpusatan menjadi lenyap

demikianlah, di akhir esei ini, barangkali saya ingin menutup dengan penggalan lirik lagu ’Bingkai Mimpi’. mungkin karena jauh dalam diri saya pun, masih ada keinginan untuk mencari jalan tengah yang tak mungkin.

Garis-garis aku satukan
Menampilkan watak yang beringas
Titik-titik aku kumpulkan
menampilkan rona geriap
Terlalu jauh
dari wajahMu yang agung teduh dan kasih
Kini kuyakini sepenuhnya engkau tak mungkin kugambar
Tinggal kumohon ampunanmu
atas kedangkalan mimpiku

‘Tanda dan Melampaui Tanda’

oleh
Audifax

Direktur Operasional Rumah Buku – YAP Institute

‘Tanda dan Pelampauan Tanda’, itulah yang saya tangkap dari buku ‘Hipersemiotika – Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna’ yang terbit pada tahun (2003). buku karya Yasraf Amir Piliang ini pernah terbit sebelumnya dengan judul ‘Hiper-realitas Kebudayaan’ yang kemudian ‘diterbitkan kembali’ dengan beberapa penambahan. buku ini, bisa dikategorikan sebuah pengantar untuk memelajari semiotika posmodern, atau postrukturalisme

gagasan Jean Baudrillard, tampak cukup pekat terasa dalam nuansa buku ini, meski YAP juga membahas pemikir-pemikir lain seperti: Jacques Lacan, Umberto Eco, Gilles Deleuze, Felix Guattari, Julia Kristeva dan banyak lain. kekhasan ini yang barangkali membuat pemikiran YAP mudah dikenali, tidak hanya lewat buku ini, namun lewat buku-buku lainnya, terutama yang terbit di seputar 1998-2004

hal lain yang menarik dari buku ini adalah ketika penulis menggunakan gerbang seni, terutama seni visual sebagai pintu masuk. namun, pembahasan yang dilakukan sepanjang buku ini, tak hanya membawa pembaca keluar lewat pintu yang sama, namun bisa ditarik ke berbagai arah yang berkaitan dengan budaya

setelah bab prolog, pembaca akan memasuki tinjauan filosofis modernisme dan posmodernisme. meski di judul bab terkesan adanya keseimbangan antara tinjauan modernisme dan posmodernisme, namun YAP tidak terlalu banyak membahas modernisme. YAP justru memulai pembahasan melalui Hegel, yang jika dicermati merupakan pemikir modernisme penting bagi pemikiran Baudrillard. Setelah Hegel, YAP membawa pada mazhab Franfurt dan kemudian Nietzche, Heidegger, sebagai mediasi sebelum membahas pemikir-pemikir postrukturalis semacam Lacan, Deleuze, Guattari, (Giani) Vattimo, dll. di akhir bab, YAP memungkasi dengan kelincahan kombinasi pembahasan antara pemikiran Marx dan Baudrillard

bab selanjutnya adalah soal diskursus dalam posmodernisme. seperti bisa dilihat dari judul babnya, mungkin pembaca bisa menebak bahwa porsi Michel Foucault cukup banyak di bab ini. tebakan itu tidaklah salah. Foucault memang cukup mendominasi bahasan di bab ini. YAP masuk melalui Lyotard, lalu membawa pembaca melewati pembahasan diskursus foucaldian, untuk kemudian berbelok pada persimpangan the death of the author, sebuah pemikiran yang mempertemukan antara pemikiran Foucault dan Barthes. lewat persimpangan ini, YAP bisa masuk pada pemikiran Kristeva tentang intertekstualitas, melanjutkan pada dekonstruksi Derrida, dan kembali memungkasi bab dengan pemikiran Baudrillard yang dikombinasikan dengan Eco

tampaknya bab mengenai diskursus merupakan jembatan juga untuk masuk ke bab berikutnya yang membahas konsumerisme dan skizofrenia. bab ini tak terlalu panjang, dan seperti judulnya, pembaca bisa menebak bahwa ada pemikiran Deleuze dan Guattari di sana. YAP mengombinasikan pemikiran Deleuze dan Guattari, dengan Hegel, Marx, dan melalui dua pemikir terakhir, membawa pada pemikiran Baudrillard

bab selanjutnya adalah wawasan semiotika dan posmodernisme. YAP membuka dengan pemikiran semiotika klasik Saussure, lalu membawa pembahasan melalui Baudrillard, Eco, Barthes dan Williamson. bab ini membahas tentang tanda, kode dan bagaimana semua itu membuat realitas yang ilusif atau simulatif. seni dan ideologi yang sedikit dibahas di sini, menjadi batu loncatan untuk masuk ke bab berikutnya: Gaya, Estetika dan Posmodernisme. kajian budaya nampak kental di bab ini

pembahasan mengenai budaya masih berlanjut di bab berikutnya: dari konsep-konsep posmodernisme menuju estetika posmodernisme. di sini, para peminat cultural studies, diperkenalkan pada sejumlah konsep seperti: pastiche, parodi, kitsch, camp dan skizofrenia. di bab inilah barangkali, yang membuat buku Hipersemiotika ini memiliki kelebihan untuk dijadikan buku pegangan dalam perkuliahan. meski masih diperlukan membaca literatur lain jika ingin mendalami, namun pengenalan istilah-istilah tersebut membantu mahasiswa untuk masuk ke dalam posmodernisme

dua bab terakhir banyak diisi pembahasan mengenai seni. sejumlah contoh karya seni, tabel dan bagan, membuat dua bab terakhir ini terkesan cukup praktis dan mudah dipahami. pada bab penutup, YAP menunjukkan oposisi biner dalam semiotika (strukturalisme) dan apa yang melampaui oposisi biner tersebut. secara umum, komposisi materi pembahasan dalam Hipersemiotika, cukup untuk mengukuhkan buku ini sebagai sebuah buku penting karya penulis Indonesia, yang membahas posmodernisme secara komprehensif

‘Ruang dan Waktu yang Terlipat’

oleh
Audifax

Direktur Operasional Rumah Buku – YAP Institute

buku “Dunia yang Dilipat” identik dengan Yasraf Amir Piliang (YAP). buku yang pertama kali terbit di tahun 1998 oleh penerbit Mizan ini, diterbitkan ulang oleh Jalasutra pada 2004. seperti judulnya, buku ini memaparkan perihal ’terlipatnya’ waktu dan ruang oleh perkembangan kebudayaan

bayangkan anda berada di tahun 1970-an, ketika pembeli di Jogjakarta membutuhkan waktu untuk mengatasi jarak jika ia ingin membeli sepeda onthel di Pasar Turi Surabaya. transaksi saat itu, hanya bisa terjadi jika pembeli dan penjual bertemu, setelah menempuh jarak dan waktu tertentu. jarak yang mesti ditempuh, berbanding dengan waktu

tapi hal itu semakin bisa dipersempit dengan adanya telepon rumah. transaksi bisa dilakukan via telepon, asal keduanya sama-sama berada di tempat tertentu yang memiliki fasilitas telepon. sekarang, dengan perkembangan teknologi selular, transaksi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. ruang dan waktu seolah terlipat menjadi makin pendek

contoh mengenai teknologi di atas, bukan saja melipat ruang dan waktu dalam soal jual-beli semata, namun juga berbagai bentuk komunikasi lain. relasi antar teman, orang tua – anak, iklan – audience, entertaintment dan banyak lagi sendi kehidupan. perkembangan teknologi dan kebudayaan membuat waktu dan ruang menjadi terlipat layaknya kertas origami

konsekuensi pelipatan waktu dan ruang adalah terlipatnya juga berbagai hal seperti: nilai, pola konsumsi, cara pandang dan kemudian realita itu sendiri. di era sekarang, realita bisa terlipat sedemikian rupa sehingga apa yang disebut realita tak selalu menunjuk pada manifestasi riil. inilah realita yang melampaui realita itu sendiri

salah satu contohnya bisa kita temui pada perkembangan dunia entertaintment. ada provider yang menyediakan semacam layanan sms premium selebriti yang seolah-olah akan dibalas oleh sang selebriti itu sendiri. lalu, orang seolah tak peduli realitas memercayai begitu saja. inilah realitas yang melampaui realitas itu sendiri

realitas yang terlipat adalah realitas yang dimampatkan sedemikan rupa sehingga melampaui batas-batas struktur serta karakteristik realitas. inilah sebuah realitas Yang-Lain atau oleh kaum postrukturalis dikenal dengan istilah The Other atau Liyan. postruktralisme adalah pertemuan antara semiotika struktruralisme dan psikoanalisa, sehingga selain ’The Other’; kunci pembahasan lain adalah ’hasrat’

dalam ’Dunia yang Dilipat’, YAP membahas ketika ‘hasrat’ menjadi komodifikasi sehingga manusia bisa memuaskan dengan cara-cara yang melampaui realitas pemuasan itu sendiri. kita bisa menemukan pembahasan itu pada bab 3: Libidonomics: Ekonomi Pasar Bebas Libido. ekonomi tidak lagi sekedar berkaitan dengan pendistribusian barang-barang dalam satu arena pertukaran namun juga dikuasai semacam libidonomics (nemein = mendistribusikan + libido = hasrat/nafsu). lihat saja bagaimana unsur tersebut ada dalam berbagai iklan

iklan parfum, atau berbagai bentuk iklan shampoo, pemutih, minyak pelumas, suplemen kesehatan, sepeda motor dan banyak lagi, dikonstruksi sedemikian rupa lewat narasi dan model yang menyampaikan pesan seolah konsumen akan memeroleh kepuasan yang lain selain utilitas dari produk tersebut. kepuasan ‘yang-lain’ ini adalah kepuasan karnal dan libidinal

buku ini berisikan ulasan mengenai pemikir-pemikir kontemporer. YAP mampu memberikan ulasan yang cukup mengalir sehingga enak untuk dibaca. bagaimana pun, kehadiran buku ini mengisi banyak ruang dalam pembahasan cultural studies yang tak terjamah penulis Indonesia lainnya. sumbangan buku ini terutama terletak pada bagaimana YAP menjelajah berbagai sudut pandang pembahasan kebudayaan oleh berbagai pemikir, sehingga bagi pembaca pemula, buku ini merupakan perkenalan awal yang baik untuk kemudian menapak lebih jauh mengenal pemikir-pemikir kontemporer dengan membaca bukunya langsung

lebih jauh, buku ini juga mengajak pembacanya untuk secara cerdas melihat realita. seringkali, orang menerima begitu saja ketika kebudayaan menyodorkan begitu saja berbagai hal. melalui buku ini kita bisa melihat apa yang terkandung di balik berbagai sodoran tersebut. buku ini, adalah sebuah buku yang mengajak kita untuk mengasah sebuah ‘Kecerdasan Kultural’ (cultural intelligence), atau mungkin lebih suka saya sebut ‘Kecerdasan Semiotik’. seberapakah kita memiliki ‘Kecerdasan Semiotik’?. mungkin ‘kita’ bisa mengujinya bersama, dengan memulai membaca buku ini

Hello world!

April 29, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!